Delapan tahun lalu World Bank mengeluarkan dokumen pendidikan di Indonesia dalam laporannya yang berjudul âEducation in Indonesia: From Crisis to Recoveryâ (1998). Di dalam dokumen setebal 174 halaman yang dibagi menjadi tujuh bagian tersebut penulis diminta menjadi salah satu pembahas dan sekaligus sebagai anggota tim nasional untuk menindaklan-juti rekomendasinya.        Dokumen World Bank tersebut pada dasarnya menyatakan demikian rendahnya kualitas pendidikan akibat krisis ekonomi yang terjadi semenjak pertengahan tahun 1997. Bahkan dokumen ini secara tidak langsung telah menggambarkan kegagalan pendidikan nasional. Tingkat partisipasi pendi-dikan yang rendah, angka drop-out yang tinggi, angka melanjutkan yang terbatas, prestasi belajar siswa yang rendah, dsb, merupakan indikator gagalnya pendidikan nasional kita.        Atas kegagalan tersebut maka diperlukan langkah-langkah nyata untuk mengadakan ârecoveryâ (baca: pemulihan) pendidikan nasional, setidak-tidaknya kembali pulih seperti sebelum terjadinya krisis; syukur-syukur kalau bisa lebih meningkat prestasinya. Selanjutnya Depdiknas, Bappenas, dan World Bank membentuk tim nasional untuk mangaktualisasi gagasan tersebut.
Copyrights © 2006