Mendengar berita tentang terjadinya kolusi yang dilakukan oleh pihak sekolah (dengan penerbit) kesedihan saya mencapai tiga tingkat-an sekaligus. Tingkatan pertama atas kesedihan tersebut menyangkut keterlibatan banyak sekolah yang dalam hal ini adalah kepala sekolah dan guru (bersifat oknum meskipun jumlahnya banyak) dalam kasus kolutif. Kepala sekolah yang nota bene juga guru serta guru itu sendiri yang oleh masyarakat telah dijadikan standar keteladanan ternyata bisa terseret oleh arus situasi yang tidak sehat. Apabila sang teladan telah berkolusi dengan merugikan pihak lain, dalam hal ini siswa dan orang tua, lalu dimanakah letak keteladanannya tersebut.      Tingkatan kedua atas kesedihan saya tersebut terjadi karena soal kolusi yang berkonotasi negatif dan yang dilakukan oleh kepala sekolah dan guru tersebut justru diinformasikan oleh menteri pendidikan dalam forum resmi.       Sebagaimana kita ketahui di dalam pertemuannya dengan anggota Komisi IX DPR RI baru-baru ini Mendikbud Wardiman Djojonegoro secara gamblang menyatakan terjadinya kolusi antara sekolah dengan penerbit dalam soal jual beli buku di sekolah. Apabila penerbit yang satu memberi potongan harga sebesar 20 persen untuk diberikan pada sekolah maka penerbit yang lainnya akan memberikan potongan harga yang lebih besar lagi. Akibatnya harga buku yang harus dibayar oleh siswa atau orangtua menjadi mahal; dengan demikian siswa dan orang tua lah yang menjadi korban kolusi ini.      Sudah barang tentu kita tidak ingin menyalahkan Pak Wardiman atas "kejujuran" informasinya itu; namun yang menyedihkan kita ialah kalau kasus kolusi yang menyangkut civitas sekolah dan yang mengu-mumkan justru menteri pendidikan sendiri maka hal tersebut mestinya memang benar-benar terjadi di lapangan. Dengan bahasa lain memang benar ada kolusi antara sekolah dengan penerbit.
Copyrights © 1997