Menteri Riset dan Teknologi B.J. Habibie kembali menggugat sistem ujian pilihan ganda atau yang sering disebut dengan multiple choice (MC). Baru-baru ini beliau menyarankan agar MC jangan dipakai lagi kalau kita menginginkan anak didik berkualitas dan mampu berfikir rinci atau bernalar. MC tidak dapat menumbuhkan sikap dan perilaku anak untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya secara tuntas.        Pada beberapa tahun terakhir ini MC memang sangat sering diaplikasi dalam proses belajar mengajar di seko-lah-sekolah atau di lembaga pendidikan lainnya di negeri ini; lebih daripada itu MC juga diaplikasi dalam momen-tum evaluasi yang besar dan penting, katakanlah misalnya diaplikasi di dalam Ebtanas sekolah dasar sampai sekolah menengah, UMPTN, tes masuk PTS, dan sebagainya. Demikian populernya MC di kalangan lembaga pendidikan sampai bi-dang-bidang studi yang sebenarnya kurang tepat di-MC-kan pun akhirnya tak dapat lepas dari sistem ini, katakanlah bidang studi Matematika, Fisika, dan sebagainya.        Apakah sistem ujian model MC memang memiliki kele bihan dan kehebatan yang luar biasa sehingga diaplikasi pada berbagai momentum yang sangat strategis? Barangkali persoalan inilah yang mengusik Pak Habibie sehingga be-liau sempat melontarkan "gugatannya". Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hassan memang pernah menyatakan bah-wa MC yang dikembangkan di sekolah-sekolah telah melalui proses validasi yang secara akademik dapat dipertanggung jawabkan; meskipun demikian pernyataan ini ternyata tak mampu meluruhkan "gugatan" Pak Habibie.
Copyrights © 1992