Hari ini tiga puluh lima tahun silam, tepatnya 26 April 1959, bangsa Indonesia kehilangan seseorang yang sangat dihormati dan dicintai, seorang pejuang nasional, tokoh nasional, tokoh kemerdekaan, tokoh pendidikan na-sional, pahlawan nasional, dan seorang Bapak Pendidikan Nasional; Ki Hadjar Dewantara.        Apabila Presiden Soekarno pernah menyatakan bahwa sesungguhnya dirinya sangat berbahagia bisa berguru pada Ki Hadjar dan menyebut "gurunya" itu merupakan Tokoh Na-sional, Tokoh Kemerdekaan dan sekaligus Tokoh Pendidikan Nasional; maka Presiden Soeharto menyebut Ki Hadjar di samping sebagai Tokoh Pendidikan Nasional juga sebagai Pahlawan Nasional yang telah mempelopori sistem pendidik an berdasarkan kepribadian dan kebudayaan nasional.        Memang begitulah keadaannya. Berbagai sebutan itu sebenarnya sekedar "alat" bagi kita agar selalu teringat pada orang-orang yang telah mendharma-bhaktikan hidupnya bagi kemajuan bangsa, yang dalam hal ini Ki Hadjar.
Copyrights © 1994