Keputusan Bersama Tiga Menteri (SKB 3 Menteri) tentang seragam sekolah yang diterbitkan pada tahun 2021 sempat memicu kontroversi dan perlawanan dari berbagai pihak, meskipun pada akhirnya peraturan tersebut dibatalkan. Dalam konteks ini, peran kepemimpinan dan gaya kepemimpinan yang efektif menjadi sangat penting untuk mengelola perlawanan dan konflik yang timbul selama implementasi kebijakan tersebut. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif, yang bertujuan untuk mengeksplorasi kompleksitas peran kepemimpinan dan strategi dalam implementasi kebijakan SKB 3 Menteri tentang seragam sekolah. Pengumpulan data dalam penelitian ini didasarkan pada tinjauan literatur. Adapun hasil pemelitian ini Peran kepemimpinan yang inklusif dan transformasional sangat penting dalam implementasi SKB 3 Menteri. Pemimpin inklusif harus dapat mengkomunikasikan kebijakan ini dengan jelas, menghargai perbedaan pandangan, dan mengelola konflik yang mungkin timbul akibat perbedaan interpretasi di lapangan. Selain itu, pemimpin transformasional dapat menciptakan visi yang menginspirasi dan memotivasi semua pihak untuk mendukung kebijakan ini sebagai langkah menuju pendidikan yang lebih adil dan terbuka.
Copyrights © 2025