Hari ini tiga puluh dua tahun yang lalu, tepatnya 24 Agustus 1962 lahirlah bayi mungil yang menjadi dambaan seluruh bangsa Indonesia; bayi yang diharapkan dapat ikut mengharumkan nama bangsa dan negara. Bayi yang kelahirannya didambakan banyak orang itu kemudian diberi nama TVRI, Televisi Republik Indonesia.        Bayi tersebut telah berkembang menjadi anak-anak, meningkat menjadi remaja, dan sekarang ini bahkan sudah menjadi dewasa. Memang, kalau dilihat usianya yang sudah 32 tahun maka TVRI bukan menjadi bayi lagi, bukan pula anak-anak dan remaja, tetapi TVRI sudah mengalami masa pasca remaja untuk menjadi dewasa. Kalau seorang manusia berusia 32 tahun perlu menanyakan pada dirinya sendiri apa yang sudah diperbuat untuk diri dan keluarganya maka TVRI pun kiranya perlu menanyakan pada dirinya apa yang sudah diperbuat untuk diri dan bangsanya selama ini.        Pertanyaan tersebut menjadi lebih relevan, bahkan jawabannya menjadi semacam tuntutan, berhubungan dengan histori kelahiran TVRI itu sendiri yang pernah mengalami romantika perjuangan. Dengan sarana, prasarana dan fasi-litas yang serba terbatas, dengan teknolog-teknolog kita yang masih belum banyak pengalaman, dan dengan program-program siaran yang masih kurang "matang", akhirnya toh keinginan memiliki TVRI dapat diwujudkan.
Copyrights © 1994