Pada tanggal 23 Januari 1991 satu tahun yang lalu Presiden Soeharto berkenan meresmikan lahirnya Televisi Pendidikan Indonesia (TPI); itu berarti bahwa hari ini TPI telah genap berusia satu tahun. Satu tahun yang lalu pula di harian ini saya menulis tentang kerinduan bangsa kita untuk mempunyai program pengajaran nonkonvensional melalui televisi guna memperluas jangkauan pelayanan pendidikan bagi rakyat banyak (Supriyoko, "Selamat Datang Televisi Pendidikan", Suara Karya: 23/01/91).        Dalam usianya yang baru setahun ini ternyata TPI begitu banyak mendapatkan kritik, saran, bahkan sinisme dari masyarakat. Apabila teman-teman TPI sempat mengiden tifikasi maka akan menemukan berbagai kritik yang sangat konstruktif, akan tetapi tentu banyak pula kritik yang destruktif. Tidak apa-apa; berbagai kritik, saran, serta sinisme itu justru menunjukkan begitu besarnya kecintaan dan harapan masyarakat yang ditujukan pada TPI. Hal ini sekaligus membuktikan pula bahwa kerinduan atas hadirnya TPI di tengah-tengah masyarakat memang benar-benar telah diendapkan sejak lama; paling tidak semenjak akhir tahun 60-an ketika Depdikbud mulai aktif mengadakan penelitian atau studi kelayakan tentang kemungkinan dikembangkannya sistem pengajaran bermedia (mediated instruction).        Mengapa masyarakat kita cukup gencar melayangkan kritik dan saran terhadap TPI? Banyak hal yang menyebabkannya; antara lain adanya keinginan masyarakat agar TPI dapat meningkatkan profesionalitas segenap jajarannya.
Copyrights © 1992