Rencana dilaksanakannya rasionalisasi di beberapa bank pemerintah dalam bentuk mem-phk (putus hubungan kerja) sebagian karyawannya sungguh menarik untuk disimak; karena hal ini rasanya merupakan fenomena yang sangat tidak biasa (langka) dalam sistem perbankan pada khusus-nya dan dalam sistem kepegawaian pemerintah pada umumnya dalam jaman pembangunan ini.
Kemenarikan tersebut di atas bertambah sempurna karena setelah rencana rasionalisasi dipublikasikan maka istilah rasionalisasi itu sendiri menjadi sangat populer dan lebih menggejala. Ingin bukti? Baik! Setelah rencana tersebut "memasyarakat" kini terdengar khabar dari Jawa Timur; konon Perumtel III yang berkantor pusat di Sura-baya akan mengurangi ratusan karyawannya secara bertahap. Dari Jawa Timur juga diperoleh berita bahwa Perusahaan Daerah (PD) pada daerah ini konon juga sedang memikirkan diaplikasikannya rasionalisasi karyawan demi pencapaian efektivitas dan efisiensi kerja yang optimal.
Di lingkungan sekolah ternyata juga telah terjadi proses dan mekanisme rasionalisasi; meskipun dalam skala yang berbeda. Beberapa sekolah swasta dari berbagai jen-jang pendidikan yang mengalami kekurangan siswa ternyata terpaksa mem-phk-kan sebagian para gurunya. Alasannya? Apalagi kalau tidak efektivitas dan efisiensi. Alur lo-gikanya pun cukup jelas: kebanyakan, atau bahkan hampir seluruh, sekolah swasta di negeri tercinta ini kan hidup dan berkembang dari siswa; kalau jumlah siswanya menipis maka daya hidupnya kan menurun, dan untuk mempertahankan hidup maka rasionalisasi menjadi pilihan.
Copyrights © 1991