ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN

LOGIKA AKADEMIK KURIKULUM 2006

Supriyoko, Ki (Unknown)



Article Info

Publish Date
25 Apr 2010

Abstract

         “GBHN 1999 menegaskan tentang perlunya diversifikasi kurikulum yang dapat melayani keanekaragaman kemampuan sumber daya manusia, kemampuan siswa, sarana pembelajaran, dan budaya daerah. Diversifikasi kurikulum menjamin hasil pendidikan bermutu yang dapat membentuk masyarakat Indonesia yang damai, demokratis, dan berdaya saing untuk maju dan sejahtera”; demikian ditulis oleh Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas dalam “Kurikulum Masa Depan: Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi” (2000).          Lebih lanjut ditulis, kurikulum disusun sesuai dengan kekinian dan kemasadepanan; karena itu kurikulum harus relevan, fleksibel, dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik maupun publik. Pertanggungja-waban ini menuntut kejelasan orientasi kurikulum, yakni lebih pada hasil belajar daripada prosedur pembelajaran. Dengan orientasi ini ditetapkan kompetensi dasar siswa pada setiap jenjang pendidikan yang dapat dicapai melalui berbagai cara sesuai dengan keadaan sekolah/daerah.          Itulah “filosofi” dikembangkannya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pada waktu itu. Dengan “filosofi” seperti ini seharusnya KBK dapat bertahan relatif lama, setidaknya sepuluh tahun sebagaimana Kurikulum 1994 dan Kurikulum 1984. Realitasnya, belum lagi berumur lima tahun ternyata KBK akan dihentikan, dieliminasi, disempurnakan, dikembangkan, diganti, atau apa pun namanya.

Copyrights © 2006