Ibu tunggal yang bercerai di Indonesia menghadapi banyak tantangan, termasuk beradaptasi dengan kehidupan setelah perceraian, mencari nafkah, membesarkan anak sendirian, dan menghadapi stigma masyarakat. Faktor-faktor ini sering menyebabkan kesejahteraan yang buruk dan masalah-masalah psikologis. Studi ini mengeksplorasi kesejahteraan para ibu tunggal yang bercerai melalui sudut pandang teori PERMA. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan deskriptif, studi ini melibatkan empat partisipan yang memenuhi kriteria berikut: (1) resmi bercerai selama minimal satu tahun, (2) orang tua yang memiliki hak asuh anak di bawah usia 18 tahun, dan (3) bekerja. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa para ibu tunggal yang bercerai umumnya menunjukkan kesejahteraan yang baik. Hal ini ditunjukkan melalui emosi yang positif, keterlibatan dalam kegiatan keagamaan dan komunitas, hubungan yang kuat, rasa memiliki tujuan, dan tekad untuk mencapai tujuan. Faktor-faktor utama yang mendukung kesejahteraan meliputi kepribadian yang ceria, optimis, dan tangguh, dukungan sosial dari keluarga dan teman, dan keyakinan akan pertolongan Ilahi. Para partisipan juga memandang perceraian sebagai pengalaman belajar yang mendorong pertumbuhan pribadi dan keluarga.
Copyrights © 2024