ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT

INTI MASALAH PENYERAGAMAN SEPATU SISWA

Supriyoko, Ki (Unknown)



Article Info

Publish Date
30 May 2010

Abstract

       Belum lagi kasus pemalsuan NEM yang kebetulan terjadi di Jawa Barat dapat terselesaikan secara tuntas kini propinsi yang berada pada bagian barat Pulau Jawa itu kembali menjadi pusat perhatian masyara-kat, khususnya masyarakat pendidikan kita.  Kali ini kasusnya bukan soal pemalsuan NEM atau pemalsuan nilai yang lain, tetapi menyangkut penyeragaman sepatu anak-anak sekolah.  Barangkali saja lagi-lagi sifatnya secara "kebetulan",  kalau Propinsi Jawa Barat dipilih sebagai tempat untuk menguji coba gagasan atau ide penyeragaman sepatu anak-anak sekolah.       Untung saja  reaksi masyarakat yang begitu dahsyat lebih melihat pada latar belakang idenya dan bukan pada tempat uji cobanya; dalam kasus ini masyarakat lebih melihat pada latar belakang ide penyeragamannya, bukan pada Jawa Baratnya.       Ketika berita mengenai  penyeragaman sepatu  anak-anak sekolah muncul di permukaan maka segeralah sambutan masyarakat mencuat ke permukaan pula.  Banyak kalangan masyarakat segera memberikan responnya;  dari praktisi sekolah,  pakar pendidikan,  orang tua siswa, para siswa itu sendiri,  sampai pada kalangan wakil rakyat semuanya telah mengambil bagian.  Banyak pendapat yang mencuat berkait de-ngan penyeragaman sepatu tersebut, namun begitu kalau dikuantifikasi barangkali pendapat yang tidak setuju atas penyeragaman tersebut terasa lebih dominan.       Ada yang menyatakan penyeragaman sepatu itu dapat membebani rakyat, khususnya dari kalangan tidak berpunya;  di sisi lain ada pula yang menyatakan bahwa penyeragaman sepatu dapat menjauhkan rak-yat dari sekolah.  Secara pedagogis penyeragaman yang terlalu ketat dipandang akan mematikan kreativitas siswa.  Atas dasar seperti itulah maka banyak pendapat yang menyatakan ketidaksetujuan penyeragam-an sepatu di kalangan anak didik.

Copyrights © 1997