Pertanyaan seorang Ibu ketika mengikuti seminar saya di Balai Kota âbagaimana saya dapat mempertahankan karyawan saya meskipun gajinya kecil?â Jawaban saya adalah tidaklah mudah untuk mempertahankan karyawan yang berkualitas. Meskipun demikian bukanlah tidak ada jalan untuk dapat mempertahankan karyawan tersebut. Saya memulai bisnis dari kecil, karena saya mulai bisnis tanpa menggunakan modal uang tunai, sehingga karyawan saya gaji dengan gaji yang kecil seperti yang dilakukan oleh ibu. Karena kemampuan bayar belum memungkinkan untuk membayar dengan gaji yang memadai. Sesungguhnya gaji bukanlah sebagai faktor untuk memotivasi, tetapi hanya sekedar menjaga motivasi.  Salah satu faktor yang dapat meningkatkan motivasi, sehingga dapat menghasilkan prestasi kerja yang baik adalah bagaimana karyawan tersebut dapat berprestasi. Jika dapat membuat karyawan kita berprestasi dengan memberikan kesempatan untuk menjalankan idenya. Apakah idenya itu berhasil atau tidak, tetapi kita telah memberikan kesempatan. Biasanya karyawan itu akan bekerja keras untuk membuktikan bahwa idenya tersebut merupakan ide yang cemerlang.   Saya teringat ketika saya masih menjadi guru di salah satu SMA pinggiran kota yang dipimpin oleh seorang Kepala Sekolah yang menggores dalam di hati saya dalam cara memimpin. Kepala Sekolah tersebut bernama Bapak Drs. Anggoro. Saya di SMA sebagai Guru Tetap Yayasan di gaji kecil, tetapi saya tetap bersemangat mengajar dan memberikan keahlian apa saja yang saya punya Hal ini juga yang dilakukan oleh Guru yang yang lain, bahkan ada juga Dosen yang mau mengajar di sekolah tersebut. Gaji yang diberikan Pak Anggora kepada guru-guru adalah memberikan kesempatan seluruh guru untuk melaksanakan idenya. Pada saat akan adanya penerimaan siswa baru, guru-guru dikumpulkan oleh Kepala Sekolah tersebut untuk membicarakan strategi agar SMA tersebut mendapat siswa yang banyak. Salah seorang yang beliau juga Dosen di ISI bernama Pak Supriaswoto, mengatakan âSaya Pak yang membuat sepanduknya. Saya cukup dibelikan bahannyaâ. âSaya Pak mengumumkan ke SMP tempat saya mengajarâ kata Pak Subarjo. âSaya yang membuat brosurnya Pakâ kata saya. Semua guru yang kumpul di SMA itu mengeluarkan idenya masing-masing dan Pak Anggoro hanya menyerahkan kepada guru-guru tersebut untuk menjalankan idenya. Hasilnya luar biasa, siswa baru di SMA tersebut cukup mengagumkan. Saya telah belajar dari Pak Anggoro tentang gaji. Ternyata memberikan gaji tidak dengan uang tetapi dengan ide terbukti ampuh melebihi gaji yang berupa uang. Sayang, turun peraturan bahwa lulusan dari Sekolah Agama tidak boleh menjadi Kepala Sekolah, akhirnya Pak Anggoro harus rela melepaskan jabatan. Tdak begitu lama Pak Anggoro yang menjadi guru kehidupan saya dipanggil oleh Sang Pemiliknya. Tuhan memang mempunyai skenario terbaik. Saya merasa kehilangan karena baru belajar sedikit dari beliau. Semoga Pak Anggoro, damai di sisi-Nya.
Copyrights © 2008