Kompleksitas utama yang menyangkut pembangunan pendidikan menengah atas berkaitan dengan belum idealnya perbandingan antara pembangunan sekolah umum (SMA) dengan sekolah kejuruan; dengan titik berat masih terfokus pada sekolah umum.      Secara konseptual lulusan SMA dipersiapkan untuk menjadi tenaga kerja profesional melalui pendidikan lanjutan di perguruan tinggi, sementara itu lulusan sekolah kejuruan dipersiapkan untuk terjun langsung ke lapangan kerja sebagai tenaga kerja menengah. Oleh karena jumlah kebutuhan tenaga kerja menengah jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tenaga kerja profesional maka seha-rusnya siswa sekolah kejuruan lebih tinggi jumlahnya dibanding siswa SMA.      Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) pernah membuat taksiran ideal perbandingan antara siswa SMA dengan siswa SMTA Kejuruan sebagai 3:7. Realita yang ada sekarang ini justru siswa SMA sangat mendominasi dalam hal kuantitas. Berdasarkan data statistik 1988/89 dari 4.040.327 siswa SMTA maka sebanyak 2.600.053 (64,35%) di antaranya merupakan siswa SMA. Sedangkan selebihnya, 1.318.867 (35,65%) siswa, merupakan siswa sekolah kejuruan dengan berbagai jenis, jurusan, dan spesifikasi-nya.Â
Copyrights © 1990