Era keterbukaan yang telah berkembang akhir-akhir ini ternyata telah membawa berbagai dampak, baik dampak positif maupun negatif. Perguruan tinggi sebagai bagian dari institusi masyarakat kiranya tak luput dari dampak keterbukaan. Apabila ada sementara orang yang menyatakan bahwa perguruan tinggi merupakan institusi penggerak a-wal (prime mover) keterbukaan, ternyata perguruan tinggi pun tidak sanggup membendung dampak dari semangat keterbukaan yang digerakkannya.        Buktinya? Akhir-akhir ini dunia perguruan tinggi sering diributkan dengan kasus yang menyangkut pengang-katan pucuk pimpinan lembaganya.Akhir-akhir ini berbagai perguruan tinggi telah mencuat namanya disebabkan adanya "keributan" kampus di dalam kasus pengangkatan rektornya; katakanlah misalnya di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga dan Universitas Trisakti (Usakti) Jakar-ta untuk PTS serta Universitas Pattimura (Unpatti) untuk PTN. Didalam hal ini tidak hanya perguruan tinggi swasta yang nota bene diselenggarakan oleh masyarakat saja yang terkena dampak keterbukaan, akan tetapi perguruan tinggi negeri yang nota bene diselenggarakan pemerintah juga tak dapat berkelit dari dampak keterbukaan.        Apakah benar bahwa "keributan" dalam pengangkatan rektor tersebut merupakan dampak semangat keterbukaan? Kiranya memang iya! Mekanisme pemilihan rektor perguruan tinggi yang makin transparan sebagai indikasi berkembang nya keterbukaan, ternyata telah menimbulkan multiinter-pretasi bagi civitas akademika. Multiinterpretasi inilah yang menjadi salah satu potensi "keributan" kampus.
Copyrights © 1994