Hikmah merupakan sesuatu yang mempunyai arti atau makna yang mendalam atau sesuatu yang berupa kebijakksanaan yang berasal dari Allah. Meskipun kebijaksanaan itu dari Allah, tetapi tidak semua orang dapat menerima kesulitan, penderitaan, kesedihan dan kegagalan. Cara mengambil hikmah ini yang membedakan orang sukses dan orang yang gagal. Orang yang gagal begitu jatuh, ia tak pernah bangun lagi dan tidak dapat mengambil hikmah. Sedangkan orang yang sukses, begitu jatuh ia akan bangun dan mengambil hikmah. Filosofi keluarga Tionghoa belum mau putus asa sebelum gagal lebih dari tiga kali, sedangkan orang Jepang akan bangkit terus sebelum gagal tujuh kali. Itulah cara mereka menyikapi dari kegagalan dan mengambil hikmah.          Ketika saya gagal memasuki Perguruan Tinggi yang saya idam-idamkan, yaitu Institut Teknologi Bandung jurusan Mesin, maka saya harus menerima dengan lapang ketika diterima di FMIPA Fisika UGM. Saya dapat mengambil hikmah dari kejadian tersebut. Barangkali Tuhan menghendaki saya untuk ada di dunia pendidikan. Alhamdulillah, sekarang saya telah mengelola lebih dari sepuluh Perguruan Tinggi dari Akademi sampai Universitas. Ketika Primagama didirikan dengan modal yang sangat kecil, hanya mampu menyewa ruangan Rp25.000,00 per bulan. Setelah 3 bulan kita disuruh untuk pindah. âDik Purdi biasanya kita berbicara masalah keluarga, tetapi kali ini saya mau bicara masalah bisnis. Mengingat Anda belum melunasi sewa rumah saya selama tiga bulan, maka saya mohon semua barang yang ada di rumah saya ini Anda bawa pulangâ, kata pemilik rumah. Pak Purdi menjawab, âSaya bersama kawan-kawan, baru saja menyebar brosur Pak. Mohon saya diberi kesempatanâ. âSaya beri waktu satu minggu rumah saya harus bersihâ, kata pemilik rumah. Kemudian Pak Purdi pulang menemui saya dan menyampaikan apa yang dikatakan si pemilik rumah. Ketika itu saya menjawab, âInsya Allah ada hikmahnyaâ. Kemudian kita berdua berjuang menyebar brosur agar dapat siswa dan tidak menyia-nyiakan waktu satu minggu itu. Dalam satu minggu itu akhirnya kami mendapatkan uang Rp50.000,00. Kemudian, saya bersama Pak Purdi mencari tempat lain dan akhirnya mendapat tempat dengan sewa Rp30.000,00 per bulan. Setelah menandatangani perjanjian, kemudian Pak Purdi saya ajak untuk melihat kantor yang baru dari depan. Kemudian saya katakan, âKantor kita yang baru sedikit lebih baik dibanding kantor yang lama kan. Itulah hikmahnyaâ. Pak Purdi mengangguk.          Demikian juga ketika saya mendirikan STMIK AMIKOM Yogyakarta, saya minta kepada Primagama untuk disewakan tempat atau kantor. Tetapi Primagama tidak mau menyewakan tempat atau kantor. Saya harus mengambil hikmah dari kejadian tersebut. âBarangkali saya harus belajar menemukan cara ketika tidak mempunyai uang untuk menyewa kantorâ kata saya dalam hati. Dari kesulitan ini akhirnya saya menemukan jalan, yaitu mendatang pemilik rumah kosong di Jl. Monginsidi No. 8. Hal itu terjadi pada bulan April 1994.. Pemilik rumah itu bernama Bapak Drs. Budi Sutrisno. âPak, saya ingin menyewa rumah Bapak selama dua tahunâ kata saya. âBoleh. rumah itu kosongâ kata Pak Budi. Kemudian saya mencoba untuk menyewa dengan membayar bulan Agustus dan September. Pak membolehkan untuk disewa dengan syarat dinotariskan. Setiap kegagalan selalu ada hikmahnya. Jika kita telah mengetahui sisi positifnya atau kita dapat mengambil hikmah, maka itulah awal dari kesuksesan. âKarena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahanâ (Alam Nasyrah : 5-6).
Copyrights © 2007