ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009

JUAL BELI BUAH BELUM NYATA HASILNYA

Suyanto, Mohammad (Unknown)



Article Info

Publish Date
22 Nov 2009

Abstract

Rasulullah s.a.w. melarang menjual buah-buahan yang belum nyata hasilnya. Al-Laits berkata : Telah diriwayatkan dari Abu Az-Zinad bahwa Urwah bin Az-Zubair menceritakan dari Sahal bin Abi Hatsmah Al Anshari (dari bani Haritsah), dia telah menceritakan kepadanya dari Zaid bin Tsabit r.a., dia berkata, ”Orang-orang pada masa Rasulullah s.a.w. melakukan jual-beli buah-buahan. Apabila mereka telah panen dan tiba waktu membayar, maka pembeli berkata,’Sesungguhnya buahnya busuk, kena penyakit, layu…’(jenis-jenis penyakit yang mereka jadikan dalih). Maka Rasulullah s.a.w. bersabda ketika banyak terjadi perselisihan dalam hal itu, ’Jika begitu, janganlah tuan-tuan berjual beli hingga telah nyata benar buah itu baik.’ Selaku orang yang suka bermusyawarah (demokratis), beliau memimpinkan hal itu karena banyaknya terjadi pertikaian antara sesama mereka” (Bukhari). Kharijah bin Zaid bin Tsabit telah mengabarkan kepadaku bahwa Zaid bin Tsabit tidak menjual buah di kebunnya hingga terbit tsuraya, maka jelaslah mana yang kuning dan mana yang merah. Abu Abdillah berkata,” Riwayat itu telah dinukil oleh Ali bin Bahr, Hakkam telah menceritakan kepada kami, Anbasah telah menceritakan kepada kami dari Zakariya, dari Abu Az-Zinad, dari Urwah, dari Sahal, dari Zaid.” Menurut Ibnu Hajar Asqalani, tsuraya adalah bersamaan dengan terbit fajar. Abu Daud meriwayatkan melalui jalur Atha’ dari Abu Hurairah, Nabi s.a.w. bersabda :”Apabila bintang telah terbit di pagi hari, maka diangkatlah segala hama dari setiap negeri.” Sementara dalam riwayat Abu Hanifah dari Atha’ disebutkan. ”Hama diangkat dari buah-buahan.” Adapun bintang yang dimaksud adalah tsuraya. Munculnya bintang inni pada pagi hari terjadi pada musim panas, dimana saat itu cuaca sangat panas di Hijaz dan merupakan awal masa masaknya buah-buahan. Dengan demikian, yang menjadi pedoman adalah masaknya buah-buahan, sedangkan terbitnya bintang tsuraya menjadi tanda bagnya.  Dari Malik, dari Nafi’, dari Abdullah bin Umar r.a. bahwasannya Rasulullah s.a.w. melarang menjual buah-buahan hingga tampak masak. Beliau melarang penjual-pembeli (Bukhari). Juga dari Humaid Ath-Tawil, dari Anas r.a., sesungguhnya Rasulullah s.a.w. melarang menjual buah kurma hingga masak, Abdu Abdillah berkata, ”Maksudnya hingga memerah.”  Demikian pula dari Jabir r.a. katanya : ”Rasulullah s.a.w. melarang menjual buah-buahan, kecuali setelah menjadi (tampak) baik” (Bukhari dan Muslim). Juga dari Jabir bin Abdullah r.a., katanya : ”Nabi saw, melarang menjual buah-buah sebelum masak. Lalu ditanyakan orang kepada beliau, ”Bagaimanakah buah yang masak ?”Jawab Nabi saw., ”Kemerah-merahan, kekuning-kuningan dan dapat dimakan seketika” (Bukhari). Riwayat lain dari Anas bin Malik r.a, katanya : ”Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. melarang menjual buah-buahan sebelum masak. Lalu ditanyakan orang kepada beliau, ”Bagaimanakah yang masak itu ?” Sabda Nabi s.a.w., ”Sehingga merah,” Kemudian beliau melanjutkan, ”Bagaimanakah jadinya kamu, apabila Allah telah melarang (menjual) buah-buahan (yang masih muda), dengan jalan mana seseorang kamu (seolah-olah) mengambil harta saudaranya.” (Bukhari). Selain melarang menjual buah-buah sebelum masak, Rasulullah s.a.w. melarang menjual kurma basah dengan kurma kering. Dari Abdullah bin Umar r.a. katanya : ”Rasulullah s.a.w.  bersabda : ”Janganlah kamu jual buah-buahan hingga nyata hasilnya, dan jangan kamu jual kurma basah dengan kurma kering” (Bukhari).

Copyrights © 2009