Bidang pendidikan senantiasa mendapatkan perhatian yang maha serius dari berbagai kalangan, baik kalangan pemerintah maupun ma-syarakat. Hal ini disebabkan karena disadari pendidikan merupakan media dan sarana yang paling potensial untuk mengembangkan mutu sumber daya manusia. Asumsinya sederhana: kalau pendidikan dapat ditangani secara proporsional maka pengembangan mutu sumber daya manusia akan lebih dekat realisasinya, sebaliknya kalau penanganan pendidikan dilakukan kurang proporsional maka pengembangan mutu sumber daya manusia tentu banyak mengalami hambatan.      Itulah sebabnya maka setiap RAPBN diumumkan oleh pemerintah, dalam hal ini oleh Presiden RI, maka anggaran pendidikan selalu mendapat perhatian untuk dicermati nilainya; apakah anggaran sektor pendidikan mengalami kenaikan nilai atau bahkan justru mengalami penurunan angka.      Sebagaimana dengan dinamika yang terjadi pada RAPBN itu sen-diri maka anggaran sektor pendidikan pun mengalami dinamika dalam angka-angkanya. Didalam sejarahnya anggaran sektor pendidikan dari tahun ke tahun senantiasa mengalami pasang surut; terkadang naik dan terkadang turun apabila dibandingkan dengan anggaran dalam APBN yang sedang berjalan.       Tahun ini RAPBN 1997/1998 baru saja diumumkan pemerintah melalui Sidang Paripurna DPR yang di samping dihadiri wakil rakyat juga dihadiri oleh para pejabat tinggi negara,termasuk Wakil Presiden Try Soetrisno. Penyampaian nota keuangan dan RAPBN oleh Presi-den Soeharto yang disampaikan pada tanggal 6 Januari 1997 yang lalu tidak saja mendapatkan perhatian para wakil rakyat yang menghadiri sidang, akan tetapi juga mendapatkan perhatian rakyat Indonesia pada umumnya; lebih daripada itu pidato presiden juga mendapat perhatian dari para analis di luar negeri.
Copyrights © 1997