Di dalam beberapa tahun terakhir ini pengembangan pendidikan kejuruan (vocational education) di Indonesia menghadapi berbagai problematika yang sangat serius. Hal ini ditandai dengan munculnya berbagai indikator sekaligus; misalnya masalah perbandingan sekolah umum dengan sekolah kejuruan, sarana dan fasilitas sekolah, kualitas lulusan sekolah kejuruan, penempatan lulusan, dan berbagai indikator lainnya yang makin lama terasakan semakin kompleks saja.        Barangkali karena itulah maka Menteri Dalam Negeri, Rudini, pernah mengajukan pertanyaan mengenai berapa perbandingan ideal di antara sekolah umum dengan sekolah kejuruan dalam forum Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia II di Medan beberapa waktu yang lalu. Pertanyaan yang menyangkut masalah diferensiasi pendidikan tersebut sungguh menarik dan menggelitik, akan tetapi sampai saat ini rasanya belum pernah terjawabkan secara tuntas oleh pakar pendidikan manapun yang kita miliki.        Masalah diferensiasi sekolah umum dengan kejuruan memang pernah menjadi polemik aktual dengan digugatnya eksistensi sekolah kejuruan itu sendiri. Pada satu pihak ada keinginan mempertahankan sistem persekolahan jalur ganda (multiple track school system) dengan menjajarkan sekolah umum dan sekolah kejuruan, tetapi di pihak lain ada yang ingin mengembangkan sistem persekolahan jalur tunggal (single track school system) dengan "menggusur" eksistensi sekolah kejuruan. Dengan keluarnya PP No:29/ 1990 tentang pendidikan menengah yang menjamin eksisten-si sekolah kejuruan maka polemik tersebut baru reda.
Copyrights © 1992