Akhir-akhir ini terjadi "trend" sosial baru yang sangat menarik untuk dicermati; yaitu munculnya berbagai aksi protes, demonstrasi, atau semacam gerakan mahasiswa pada berbagai tempat dengan berbagai latar belakang dan orientasinya.      Di Yogyakarta ada Gerakan Mahasiswa Sadar Wisata yang "menentang" legalisasi jenis hiburan tertentu yang dipandang tidak sesuai dengan kultur masyarakat, meski peraturannya sudah disi-apkan dengan rapinya. Di kota ini pula muncul Aksi Kontemplasi Anti Kekerasan yang konon bermaksud menentang berbagai macam bentuk "kekerasan" yang dipandang semakin "kentara" pada akhir-akhir ini.      Ilustrasi tersebut hanya merupakan sebagian dari berbagai aksi mahasiswa yang lainnya; sebut saja contoh-contoh lain seperti aksi solidaritas sosial untuk masyarakat Kedung Ombo, Jawa Tengah, kelompok mahasiswa yang "berkerumun" di halaman kantor Depdagri untuk memprotes (baca: memohon penjelasan) tentang penambangan pasir di daerah Bojonegoro, Jawa Timur, dan sebagainya.      Berbagai aksi tersebut dilakukan oleh sekelompok mahasiswa tertentu, atau setidak-tidaknya kelompok orang yang mengatasnamakan mahasiswa.       Apakah semua itu merupakan fenomena yang positif, yang dapat membangun citra masyarakat kampus untuk meningkatkan kepeduliannya terhadap masalah-masalah sosial di sekitarnya? Atau sebaliknya justru merupakan fenomena yang negatif, yang dapat merusak citra masyarakat kampus itu sendiri? Marilah kita mencoba menganalisisnya.
Copyrights © 1989