Sekitar tujuh belas tahun yang lalu atau tepatnya pada awal tahun 1979 saya berjalan-jalan di pusat kota Amsterdam, Belanda. Keramai-an kota Amsterdam, meski tak berkesan "crowded", tidaklah menarik bagi saya karena hal semacam ini dapat ditemukan di Jakarta atau kota besar di Indonesia lainnya. Yang justru menarik bagi saya adalah ada-nya suatu toko yang (waktu itu) membuat asing bagi saya; yaitu toko yang menjual segala peralatan untuk memuaskan hasrat seksual sese-orang, dari peralatan kontrasepsi, alat kelamin sintetis, buku-buku dan majalah porno, kaset dan film biru sampai boneka hidup.      Toko yang menjual peralatan seksual, disebut Sex Shop, seperti itu ternyata tidak hanya satu di Amsterdam akan tetapi ada beberapa jumlahnya. Bahkan belakangan saya ketahui bahwa di kota-kota lain pun, seperti Den-Haag dan Rotterdam, juga ada yang membukanya. Bahkan beberapa di antaranya di samping menjual peralatan seksual juga memutar "film biru" dari yang masa putarnya dua menit, lima menit, sepuluh menit sampai satu jam.      Pengunjung di Sex Shop tersebut ternyata biasa-biasa saja; tidak ada perasaan malu atau "risih". Mereka datang ke Sex Shop sebagai-mana datang ke toko swalayan di tengah kota atau ke toko kelontong di pinggir kampung. Ada yang muda, ada yang tua bahkan yang sudah gaek pun jangan dikira tidak berpartisipasi.      Belakangan lagi saya ketahui bahwa keberadaan Sex Shop juga ada di hampir semua kota-kota besar di berbagai negara yang pernah saya kunjungi;bukan saja di negara Barat akan tetapi di Timur pun ada juga bisnis seperti itu. Kalau kita pergi ke Hongkong atau ke Tokyo misalnya, jangan heran kalau kita akan mendapatkan fasilitas seperti itu. Bahkan di kota-kota nonmetropolitan di Jepang seperti Shinjuku, Akihabara, dsb, kita bisa berpartisipasi dalam bisnis yang oleh sementara orang dinyatakan sangat prospektif itu.
Copyrights © 1996