Pelaksanaan Ebtanas pada Sekolah Dasar (SD) baru saja selesai, dan hasilnya diumumkan secara serentak pa-da tanggal 20 Mei 1992, meski konon ada beberapa SD yang mendahuluinya. Bagi para siswa dan orang tuanya, serta siapapun yang mempunyai kepedulian pada pendidikan dasar sejak semula berharap supaya hasil Ebtanas bisa optimal; karena dengan demikian kelulusan siswa pun bukan sekedar menjadi lebih lancar, akan tetapi juga lebih "bersih".        Apakah dengan selesainya Ebtanas maka akan bera-khir kesibukan akademik di SD? Sudah barang tentu tidak! Saat ini para guru justru sudah mulai mempersiapkan diri untuk menyongsong kesibukan baru yang beberapa hari lagi akan segera tiba, yaitu kesibukan penerimaan siswa baru untuk tahun ajaran 1992/1993. Bukan itu saja, sebagaian kepala SD bahkan ada yang mulai "pusing" memikirkan mo-ment penerimaan siswa barunya; yaitu memikirkan penyakit "kekeringan" siswa yang mungkin saja melanda sekolahnya. Belajar dari pengalaman tahun lalu banyak ditemukan SD yang "kering", dalam artian tidak memperoleh siswa baru dalam jumlah yang proporsional dan memadai.        Marilah bernostalgia sejenak; tahun lalu relatif banyak SD di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang tidak mampu menggaet siswa baru dalam jumlah yang "lazim". Le-bih daripada itu ada beberapa SD yang hanya mendapatkan belasan atau bahkan kurang dari 10 siswa baru; pada hal guru, sarana pendidikan dan fasilitas belajarnya disiap-kan untuk puluhan siswa.
Copyrights © 1992