Pada pergantian abad ke 19 dan 20 seorang ilmuwan Barat, Louis William Stern (1871-1938) berhasil menciptakan teori konvergensi yang merupakan gabungan dari teori nativismenya Schoppenhauer dengan Empiris-nya John Locke. Menurut teori konvergensi-nya Stern, pengembangan diri seseorang sangat ditentukan oleh dua faktor sekaligus ; ialah "pembawaan" dan "pengalaman".      Teori tersebut sampai sekarang diacu oleh hampir seluruh pendidik di seluruh dunia; baik di negara-negara yang sudah maju maupun di negara-negara yang sedang berkembang; tak terkecuali Indonesia.      Itulah sebabnya maka para pakar pendidikan telah meyakini dengan sepenuh hati bahwa keberhasilan belajar seorang siswa/mahasiswa ditentukan oleh dua faktor sekaligus; ialah faktor input dan faktor proses. Yang pertama lebih menunjuk pada "pembawaan", dan yang kedua lebih menunjuk pada "pengalaman".      Implikasinya: apabila dalam dunia pendidikan kita sering ditemui diskusi atau polemik tentang efektivitas sistem penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi, baik PTN maupun PTS, sesungguhnya itu tidak lebih dari manifestasi keinginan masyarakat agar lembaga pendidikan tersebut mempunyai input yang benar-benar berkualitas, karena input ini memiliki posisi yang sangat strategis untuk mencapai keberhasilan belajar yang maksimal.
Copyrights © 1988