Setelah tahap ketiga yang paling sulit untuk menjadi entrepreneur adalah mengambil langkah memulai bisnis, mulai menggelindingkan bisnis. Pada awalnya kita menyewa ruko kecil dan kurang memadahi dengan sewa Rp 25.000,- per bulan berada di sebelah sisi barat Jalam Kapten Tendean, Wirobrajan Yogyakarta. Ruko tersebut berukuran kurang lebih, panjang 8 meter dan lebar 4 meter, kita sekat menjadi dua bagian. Bagian pertama untuk kelas dan bagian kedua untuk administrasi (customer service) dan untuk pengelola. Di bagian depan sebelah kiri adalah cendela kaca besar yang agak buram, meskipun demikian kalau dari dalam, masih dapat melihat kendaraan yang sedang lewat. Sedangkan sebelah kanannya berupa pintu yang cukup lebar, bercat hijau tua. Papan tulisnya dari lembaran whiteboard yang seadanya yang dibuat sendiri dan ditempelkan di sebelah timur menutupi cendela kaca tersebut. Alat tulisnya berupa spidol dalam jumlah yang terbatas. Penghapus papan tulis menggunakan kualitas rendahan, sehingga seringkali pengajar ditertawakan siswanya, karena setelah menghapus papan tulis, tangannya kena kotoran dari bekas spidol kemudian tangan tersebut untuk mengusap keringat yang berada di muka pengajar tersebut. Keringat bercucuran, karena ruang sempit tanpa AC dan tanpa kipas angin serta satu-satunya aliran udara hanya berasal dari pintu. Meskipun demikian, saya bersama kawan-kawan mengajar dengan penuh semangat dan memberikan yang terbaik, sehingga siswapun juga ikut bersemangat mengikuti pelajaran. Kursinya dari kursi besi ringan berwarna hijau yang merupakan kursi sewaan dengan sewa yang paling murah. Kita menyewa bergantung pada jumlah siswa yang ikut bimbingan. Pernah suatu saat saya bersama kawan-kawan kebingungan karena kekurangan kursi, sehingga kursi tempat pengajar itu diberikan siswa. Bila tidak cukup, siswa itu kita suruh untuk mengikuti bimbingan hari berikutnya. Pada hari itu kita langsung menyewa kursi tambahan. Bila ada pelajaran, karena tempat kerja kita di tikar kesayangan, terpaksa tikarnya harus dilipat, karena tidak enak kalau dilihat siswa bekerja di tikar, kelihatan tidak profesional. Mengingat kemampuan kita yang sangat terbatas, kemudian kita duduk depan kantor sambil bekerja sebagai pengawas sepeda motor dari siswa. Diskusi, menyusun strategi, bermimpi sambil bercanda dengan pemandangan lalu lintas kendaraan yang lewat menambah indahnya pengalaman memulai berbisnis. Bahan yang akan kita ajarkan, sebelumnya kita ketik bergantian yang kadangkala sampai pagi. Dengan demikian kalau malam tidurnya bergantian. Setelah selesai kita bawa menuju percetakan yang dapat dibayar kemudian. Kadangkala di percetakan kita tunggu. Bahkan pernah terjadi ketika kita membagi bahan yang akan kita ajarkan, masih memakai sandal jepit dan belum mandi. Meskipun kita sudah bekerja keras dan biaya murah tetapi siswa yang masukpun juga masih sangat sedikit. Ada yang hanya mencari informasi saja, kita sudah sangat senang sekali, apalagi kalau sampai mendaftar bimbingan. Kesulitan dan kesukaran terus kita hadapi. Hari demi hari berusaha untuk mengatasi kesulitan yang kita hadapi. Kerja keras dan doa terus mengalir tak henti-henti. Tabir kesulitan itu sedikit demi sedikit mulai terungkap. Sesungguhnya kesulitan itu akan memunculkan kratifitas dan inovasi yang sangat luar biasa. Hal ini tidak akan kita peroleh kalau kita tidak pernah mencoba memulai bisnis.
Copyrights © 2009