Hari ini empat belas tahun yang lalu, atau tepatnya tanggal empat bulan September tahun seribu sembilan ratus delapan puluh empat, di-siarkan pidato Presiden RI, baik melalui radio maupun televisi, yang menandai dimulainya kegiatan operasional akademik Universitas Ter-buka (UT). Pada hari itu juga disampaikan kuliah jarak jauh perdana melalui media massa (mediated instruction).      Pada saat itu tanggapan masyarakat atas kehadiran UT sangatlah beragam; ada yang menyambut secara pesimis, ada pula yang optimis, tetapi banyak yang menyambut dengan penuh tanda tanya (question mark). Kenapa? Sistem pendidikan (formal) terbuka masih merupakan barang baru di Indonesia sehingga belum banyak yang mengenalnya. Benar bahwa kita sudah memiliki pengalaman akan sistem pendidikan terbuka yang lain, misalnya SMP Terbuka, tetapi hal itu tidak diaplikasi pada sistem pendidikan formal. Lebih daripada itu SMP Terbuka (dan lainnya) tidak pernah meraih popularitas yang maksimal sehingga adalah wajar kalau masyarakat banyak yang bertanya-tanya.      Pak Setiyadi selaku perintis UT dan sekaligus menjadi rektor UT yang pertama adalah termasuk orang yang optimis akan keberhasilan UT. Optimisme Pak Setiyadi ini kemudian didukung oleh orang-orang yang belakangan dikenal dengan "Syracuse Sundicate", yaitu mereka yang pernah mengenyam pendidikan di Syracuse University, AS. Meskipun beliau juga mengakui tidak ringan untuk mensukseskan UT akan tetapi Pak Setiyadi berusaha keras mengupayakannya.      Di luar kelompok tersebut diatas sebenarnya banyak anggota ma-syarakat kita termasuk pakar dan praktisi pendidikan, yang meragukan keberhasilan UT. Pasalnya secara empirik penyelenggaraan pendidik-an terbuka di Indonesia umumnya tidak (sepenuhnya) berhasil.
Copyrights © 1998