Ketika saya mengisi seminar bertema âMiliader Modal Dengkulâ yang diadakan oleh SKM Minggu Pagi di Balai Kota Yogyakarta, dibuka oleh Walikota, Bapak Herry Zudianto. Sambutan yang paling menarik dari Pak Herry, menurut saya adalah ketika beliau diajarkan oleh Neneknya untuk belajar menepati janji. Pada suatu hari, Pak Herry pinjam uang kepada Neneknya. Pada saat akan pinjam Neneknya bertanya kepada Pak Herry : âKamu mau pinjam berapa dan kapan akan kamu kembalikan?â tanya Neneknya. Setelah menyebutkan besarnya dan waktu pengembaliannya, Pak Herry diberikan pinjaman oleh Neneknya. Sebelum pulang Neneknya berpesan âKamu harus menepati janjiâ. Setelah dapat pesan dari Neneknya tersebut, kemudian berpamitan untuk pulang. Setelah tiga hari, sesuai janjinya  Nenek Pak Herry menyuruh untuk menagih kepada Pak Herry. Dalam rangka belajar menepati janji. âMasalah kamu mau pinjam lagi sorenya. Tidak apa-apa, tetapi janjimu tiga hari itu harus ditepatiâ kata Neneknya. Itulah pelajaran yang sangat berharga yang diperoleh dari Neneknya. Pelajran dari Neneknya tentang menepati janji tersebut hingga saat ini diterapkan dalam bisnisnya. Bahkan Pak Herry mengatakan terus terang kepada relasinya pada saat membutuhkan pengembangan usaha. âkarena saya baru mengembangkan usaha yang baru. Saya mohon diberi kelonggaran pembayaran 45 hariâ kata Pak. Herry. Setelah berjalan belum sampai 45 hari, biasanya Pak Herry telah memenuhi janjinya melakukan pembayaran. Demikian pula ketika saya sebelum mendirikan Perguruan Tinggi Komputer, saya mencoba berbisnis perangkat keras komputer. Selain saya didukung dari perusahaan Jakarta, juga ada perusahaan komputer dari Yogyakarta yang mendukung saya. Dalam berbisnis dengan orang Jakarta, maupun orang Yogyakarta, saya dituntut untuk menepati janji dalam pembayaran. Pengusaha tersebut sangat menekankan kepada untuk menepati janji.  âPak Yanto, tolong saya besok ditransfer sebelum jam 10.00. Karena saya harus transfer ke Jakarta paling lambat jam 10.00 Pak. Kalau saya terlambat sepuluh menit saja, saya tidak dipercaya Pakâ kata Pengusaha komputer tersebut. Menepati janji merupakan salah satu syarat agar kita dapat dipercaya orang lain. Saya teringat Rasulullah s.a.w. dalam menepati janji. Dari Abdullah Ibn Abdul Hamzah mengatakan :âAku telah membeli sesuatu dari Nabi sebelum ia menerima tugas kenabian dan karena masih ada urusan dengannya, maka aku menjanjikan untuk mengantarkan padanya, tetapi aku lupa. Ketika teringat tiga hari kemudian, akupun pergi ke tempat tersebut dan menemukan Nabi masih berada di sana.â Nabi berkata :âEngkau telah membuatku resah, aku berada di sini menunggumuâ (Abu Dawud). Pengalaman saya membantu pengusaha kecil, masalah menepati janji ini yang tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Padahal kalau dia menepati janji akan saya bantu lagi. Tidak saja menepati janji, tetapi malah menghilang dari peredaran. Sebagian dari pengusaha kecil kita lebih menyukai menghindar daripada menghadapi masalah, sehingga masalahnya jadi tidak terpecahkan, bahkan menjadi rumit dan membuat kepercayaan luntur. Sayapun juga pernah menjadi pengusaha kecil yang sulit dari sisi keuangan. Pada suatu saat saya harus membayar kontrakan, ternyata uangnya tidak cukup meskipun sudah bekerja keras untuk mendapatkan uang tersebut. Saya seminggu sebelum jatuh tempo datang ke rumah Bapak yang punya rumah. Saya mengambil resiko untuk menyiapkan diri dimarahi, karena belum bisa membayar secara penuh, tetapi masalahnya jadi selesai karena masalah itu saya hadapi dan dipecahkan bersama, bukan saya hindari. Akhirnya, Bapak yang mempunyai rumah tersebut memberikan kelonggaran kepada saya. Satu tahun kemudian, setelah perusahaan saya keungannya baik, saya datang lagi sebulan sebelum jatuh tempo pembayaran tahun berikutnya. Kepada pemilik rumah saya katakan âSaya hari ini membayar kontrakan yang jatuh tempo bulan depan Pakâ. âLho kan masih bulan depan. Kok dibayar hari iniâ jawab Bapak pemilik rumah setengah tidak percaya. âSebagai ganti Bapak telah memberi tenggang waktu kepada saya tahun laluâ kata saya. âTerima kasih Pak Yantoâ jawab Bapak pemilik rumah, sejenak kemudian. âUntuk harga kotrakan tahun depan terserah Pak Yanto, yang penting saya jangan rugi karena inflasiâ kata yang mempunyai rumah. Kepercayaan pemilik rumah kepada saya tumbuh kembali. Â
Copyrights © 2008