Indonesia merupakan negara dengan sebaran gambut terbanyak di Asia Tenggara. Luas lahan gambut di Indonesia mencapai 13.43 juta hektar yang tersebar di empat pulau besar di Indonesia. Pembangunan infrastruktur di lahan gambut memiliki banyak resiko karena karakteritik gambut yang buruk, seperti kadar air dan kadar serat yang tinggi, hingga daya dukung yang rendah. Oleh karena itu pada saat ini banyak penelitian yang dilakukan untuk meningkatkan karakteristik gambut berupa stabilisasi, hanya saja stabilisasi yang dilakukan banyak menggunakan bahan kimia yang dapat mencemari lingkungan. Pada dewasa ini, stabilisasi dengan bakteri dianggap lebih ramah lingkungan seperti stabilisasi dengan metode Microbially Induced Calcite Precipitation (MICP) menggunakan bakteri Bacillus subtilis. Proses stabilisasi dengan penambahan 7.5% larutan bakteri dapat meningkatkan kuat geser gambut dari 17.693 kPa menjadi 24.047 kPa. Peningkatan kuat geser pada gambut diikuti dengan perubahan karakteristiknya. Gambut yang berasal dari Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah memiliki karakteristik sebagai gambut berserat tipe hemic dengan kandungan abu yang tinggi kadar organik yang tinggi, tingkat keasaman yang tinggi, serta kemampuan penyerapan air yang sedang. Setelah dilakukan stabilisasi didapatkan karakteristik gambut menjadi gambut tidak berserat tipe sapric dengan kadar abu yang tinggi, kadar organik yang rendah, tingkat keasaman yang sedang, serta kemampuan penyerapan air yang rendah.
Copyrights © 2023