Ketidak-hadiran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro dalam peringatan hari ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang ke-48 tgl 25 November 1993 yang lalu di Jakarta merupakan cerminan sikap pemerintah yang kurang memperhatikan nasib guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Demikianlah kira-kira yang dinyatakan oleh Wakil Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Sukowaluyo.        Lebih lanjut Pak Sukowaluyo menyatakan bahwasanya guru hanya diperlukan jika ada kepentingan tertentu saja sesudah itu sering dilupakan; padahal perjuangan mereka ini merupakan kata kunci pendidikan dasar.        Apa yang dinyatakan oleh Pak Sukowaluyo tersebut bernada "keras",seperti mengandung prasangka yang kurang baik (suudzaan) atau lebih cenderung berprasangka buruk (prejudice), meskipun mungkin maksud hatinya cukup baik untuk "menyentil" pemerintah agar supaya lebih memperha-tikan nasib guru, khususnya yang tergabung dalam PGRI.
Copyrights © 1993