Perjumpaan kekristenan dengan budaya dalam kehidupan sehari-hari merupakan realitas yang tidak dapat dielakkan. Gereja-gereja di Lereng Merbabu pada satu sisi menghadapi budaya Jawa yang mengakar kuatĀ dalam diri anggota jemaat. Di sisi yang lain ada tantangan untuk menjaga kemurnian ajaran kekristenan. Kekuatiran akan terjadinya sinkretisme mewarnai upaya menjawab tantangan ini. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan tentang bagaimana cara mengurai kekuatiran atas sinkretisme dalam upaya membangun teologi kontekstual di gereja-gereja Lereng Merbabu. Dalam usaha menjawab pertanyaan tersebut, metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Adapun jenis fenomenologi yang dipilih adalah fenomenologi hermeneutik yang digagas oleh van Manen dan teori yang digunakan untuk menganalisa dan menafsirkan hasil wawancara adalah teori sinkretisme oleh Harrison. Hasil yang diperoleh dari penelitian lapangan secara umum para partisipan memandang sinkretisme sebagai hal yang negatif. Akibatnya ada kecenderungan menolak sinkretisme dengan alasan menjaga kemurnian ajaran. Upaya membangun teologi yang kontekstual terlihat hanya dari sisi liturgi saja dan belum menyentuh pengajaran. Usulan yang diberikan adalah mengupayakan sikap yang lebih terbuka terhadap budaya.
Copyrights © 2025