Manusia berinteraksi satu sama lain melalui komunikasi dalam bentuk bahasa lisan namun tidak dengan anak gangguan pendengaran. Komunikasi dapat terjadi baik secara verbal maupun nonverbal. Ketidakmampuan bicara secara verbal akibat kerusakan fungsi pendengaran juga dikatakan sebagai disability, namun disability yang dialami tunarungu dapat dikompensasikan dengan menggunakan bahasa isyarat sehingga diharapkan dapat membantu tunarungu berkomunikasi total secara sosial dikehidupan sehari-hari. Untuk mengetahui pengaruh penggunaan bahasa isyarat terhadap kemampuan bahasa reseptif pada anak dengan gangguan pendengaran. Peneliti menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif untuk memperoleh pemahaman secara general dan mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ditelaah secara numerik. Dengan menggunakan sampel 30 anak yang mengalami gangguan pendengaran di SLB YRTRW Surakarta..Hasil penelitian ini yaitu Uji ANOVA menghasilkan nilai F sebesar 63,693 dengan tingkat signifikansi 0,000, yang menunjukkan bahwa model regresi ini secara keseluruhan signifikan dalam menjelaskan hubungan antara Kemampuan Bahasa Isyarat dan Kemampuan Bahasa Reseptif. Dengan kata lain, Kemampuan Bahasa Isyarat memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Kemampuan Bahasa Reseptif. Terdapat pengaruh bahasa isyarat terhadap kemampuan bahasa reseptif.
Copyrights © 2025