Bandara Silampari melakukan pengembangan fasilitas terhadap panjang runway 2.220 m untuk melayani pesawat udara rencana Boeing 737-900 ER sehingga diperlukan tinjauan untuk analisa kebutuhan pengembangan dimaksud. Dengan menggunakan metoda ICAO Doc 9177 part 1 runway kebutuhan panjang runway didapat 3.120 m, menggunakan metoda grafik Flight Planing and Performane Manual Boeing 737-900 ER didapat 3.020 (Maximum Apron Mass) dan didapat 2.720 m (koreksi dari Maximum Apron Mass). Kemudian kebutuhan tebal perkerasan (Software FAAAIRFIELD) didapat susunan : P-401/P403 HMA surface = 4inch; P-401/P-403 HMA Stabilized = 5 inch; P-209 Crushed Aggregate = 6 inch; P-154 Uncrushed Aggregates = 17,9 inch dengan nilai PCN adalah 66,3 (software COMFAA) lebih besar dari ACN pesawat udara yaitu 56 dengan Comulative Demage Factor : 0,2722 < 1, serta adanya kebutuhan peningkatan fasilitas/perlatan lainnya. Mempertibangkan proyeksi linear annual depature sampai tahun 2034 hanya 580 maka perpanjangan yang diperlukan adalah 2.720 – 2,220 = 500 m, Untuk kebutuhan tebal perkerasan base dapat dilakukan pengurangan mengingat hasil dari desain PCN 66 > ACN 56.
Copyrights © 2025