Terdapat kecenderungan umum bahwa sebuah usaha untuk mengklaim film sebagai sebuah seni menuntut eksistensi dari cara bertutur yang khas dalam berekspresi. Dari sinilah maka konsep bahasa/film menjadi syarat mutlak untuk ditawarkan sebagai sesuatu yang unik hasil kontemplasi para senimannya. Tapi seandainya konsep berekspresi tersebut justru mempersempit potensi yang mungkin dicapai oleh mediumnya maka seni tersebut tidak akan berkembang. Malah menjadikan setiap tawaran estetik bam akan mandek, karena paradigma lama berubah menjadi doktrin yang tidak bisa dikritisi walaupun ia lahir dari kesalahan sejarah semata. Padahal bahasa film tidak harus melayani naratif dan mengikuti model seperti seni lukis yang berorientasi pada imaji semata.
Copyrights © 2009