Perkembangan teknologi pengelasan terus mengalami kemajuan, mulai dari sistem manual hingga otomatis dan robotik, yang memberikan dampak besar bagi industri konstruksi, otomotif, dan perkapalan. Salah satu metode pengelasan yang umum digunakan dalam industri, khususnya untuk material tahan karat, adalah MIG (Metal Inert Gas) welding. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat, khususnya siswa SMKN 1 Ciruas, mengenai pengelasan besi holo dengan ketebalan di bawah 1 mm menggunakan las MIG. Umumnya, masyarakat masih menggunakan metode SMAW dengan ampere kecil, namun hasilnya kurang maksimal dari segi kekuatan dan kerapihan.Pengelasan MIG efektif untuk menyambung logam sejenis maupun berbeda dan digunakan di berbagai industri seperti pipa minyak, perkapalan, dan bangunan. Kualitas hasil las sangat dipengaruhi oleh sudut kampuh, posisi, elektroda, jenis las, polaritas listrik, dan pergerakan elektroda. Permasalahan umum dalam proses MIG adalah terjadinya distorsi sudut dan penetrasi berlebih. Dengan pendekatan Response Surface Methodology dan optimasi non-linear programming, diperoleh model empiris dan parameter optimal: panjang pelat 355,75 mm, arus 30 A, dan kecepatan pengelasan 30 cm/menit. Hasil optimasi menunjukkan distorsi sudut minimum 0,139 radian dan kedalaman penetrasi 2,77 mm, memberikan kualitas las yang lebih baik dan presisi. Kata Kunci : Pengelasan MIG, besi holo, optimasi proses, SMAW
Copyrights © 2025