Penelitian ini mengkaji proses stereotipisasi terhadap juru parkir liar (jukir liar) etnis Madura di Surabaya, yang kerap dikaitkan dengan tindakan kekerasan, pemalakan, dan ketidaktertiban. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif-eksploratif dengan teknik pengumpulan data wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen, penelitian ini menemukan bahwa stereotip tersebut terbentuk melalui interaksi kompleks antara faktor media, kategorisasi sosial, ketimpangan struktural, dan kebijakan publik yang tidak inklusif. Analisis data lapangan di wilayah Surabaya Utara (Semampir, Kenjeran, Krembangan) menunjukkan bahwa media lokal turut memperkuat stigma melalui framing berita yang secara selektif menyorot identitas etnis pelaku. Teori Identitas Sosial (Tajfel & Turner) menjelaskan mekanisme psikologis dimana masyarakat mayoritas (Jawa) sebagai ingroup memandang jukir liar Madura sebagai outgroup yang mengancam tatanan sosial. Sementara itu, analisis struktural mengungkap bagaimana ketimpangan ekonomi dan terbatasnya akses terhadap pekerjaan formal memaksa banyak perantau Madura bertahan di sektor informal yang rentan tanpa perlindungan hukum memadai. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan solusi holistik yang mencakup reformasi kebijakan parkir berbasis partisipasi masyarakat, penguatan dialog antaretnis melalui forum-forum kewilayahan, serta edukasi media untuk mempromosikan jurnalisme yang lebih inklusif dan bertanggung jawab, guna mengurangi diskriminasi sekaligus memperkuat kohesi sosial di kota multikultural seperti Surabaya.
Copyrights © 2025