Artikel ini mengeksplorasi kompleksitas bahasa al-Qur’an dalam konteks kemajemukan dialek Arab pra-Islam, menyoroti bagaimana teks suci ini membentuk dan merepresentasikan bentuk bahasa sastra antar-suku (koine). Dengan pendekatan filologis, linguistik Arab, dan sosiolinguistik, penelitian ini mengungkap bahwa bahasa al-Qur’an tidak terbatas pada dialek Quraisy semata, melainkan mengintegrasikan unsur-unsur dari berbagai dialek seperti Tami>m, Hudhail, dan Himyar. Proses ini mencerminkan strategi komunikasi ilahiah yang menyatukan keragaman linguistik dalam satu struktur gramatikal dan estetis yang fasih, retoris, dan performatif. Konsep koineisasi digunakan untuk menjelaskan pembentukan bahasa al-Qur’an sebagai medium komunikasi lintas-suku yang efektif dan indah. Fenomena qirā’āt, keunggulan retoris, dan fungsi estetis al-Qur’an semakin memperkuat posisinya sebagai model bahasa standar (fush}ā) yang berperan penting dalam kodifikasi bahasa Arab. Studi ini menekankan relevansi linguistik dan teologis bahasa al-Qur’an sebagai agen integratif dalam masyarakat Arab abad ke-7 dan sebagai landasan ideologis dalam perkembangan bahasa Arab modern.
Copyrights © 2025