Fenomena self-harm di kalangan Generasi Z di Kota Denpasar mengalami peningkatan signifikan seiring dengan tekanan sosial, budaya, dan perkembangan teknologi digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor sosial-budaya dengan perilaku self-harm serta implikasinya terhadap kesejahteraan psikososial individu. Menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif, data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap lima informan berusia 20–24 tahun yang pernah melakukan self-harm. Analisis data menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud serta hierarki kebutuhan Abraham Maslow, yang kemudian ditafsirkan dalam kerangka antropologi budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa trauma masa lalu, tekanan emosional, minimnya aktualisasi diri, pola asuh disfungsional, norma budaya patriarkal, serta paparan media sosial yang negatif merupakan pemicu utama perilaku self-harm. Tindakan ini dijadikan sebagai mekanisme pelampiasan emosi yang bersifat sementara, namun berdampak jangka panjang terhadap kesehatan mental, pendidikan, hubungan sosial, dan stabilitas ekonomi. Penelitian ini menegaskan pentingnya intervensi multidisipliner berbasis budaya lokal, edukasi kesehatan mental, dan penguatan dukungan sosial untuk mencegah dan menangani perilaku self-harm secara holistik di kalangan Generasi Z.
Copyrights © 2025