Menjalankan peran sebagai fungsionaris lembaga kemahasiswaan memiliki tantangan miskomunikasi, perbedaan pendapat, serta pengorbanan,sehingga menyebabkan tekanan dan kesulitan dalam mengelola emosi yang berdampak pada subjective well-being. Upaya mencapai kebahagiaan dapat melalui regulasi emosi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara regulasi emosi dan subjective well-being pada fungsionaris lembaga kemahasiswaan. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain analisis korelasi. Subjek penelitian adalah 204 dengan menggunakan teknik quota sampling. Pengukuran penelitian menggunakan Emotional Regulation Questionnaire, Satisfaction with Life Scale(SWLS) dan PANAS. Analisis data menggunakan uji korelasi Product Moment dari Karl Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara regulasi emosi dan subjective well-being (r=0,258 dan sig= 0,000). Hal ini menunjukkan bahwa regulasi emosi menjadi salah satu faktor yang berhubungan dengan meningkatnya subjective well-being fungsionaris lembaga kemahasiswaan. Implikasi dari penelitian ini adalah para fungsionaris lembaga kemahasiswaan diberikan ruang untuk berpendapat dan menghindari permasalahan seperti perbedaan pendapat antar sesama fungsionaris dengan mengelola emosi yang baik agar mencapai subjective well-being yang baik pula.
Copyrights © 2024