Rendahnya kesadaran terhadap literasi di Indonesia tercermin dalam peringkat rendah negara ini dalam survei UNESCO dan PISA, menempatkannya di peringkat 60 dari 61 dan 74 dari 76 negara, secara berturut-turut. Minat membaca rendah, terutama di kalangan siswa, dapat mengurangi mutu pendidikan, terutama selama pandemi Covid-19 di mana siswa cenderung lebih memilih bermain game daripada membaca. Dampak negatif penggunaan teknologi oleh siswa, yang mengurangi waktu untuk membaca, menjadi tantangan bagi orang tua dan sekolah. Observasi di SDN 04 Rambutan, Jakarta Timur, menunjukkan rendahnya minat membaca siswa, terutama setelah pandemi, dengan kemajuan teknologi di pulau belum dimanfaatkan sebaiknya. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian masyarakat diarahkan untuk meningkatkan minat baca siswa, terutama melalui kegiatan pendampingan membaca, dengan harapan mengembangkan literasi membaca, kreativitas, imajinasi, dan pengetahuan siswa serta mendorong penggunaan teknologi dengan bijak sebagai alat untuk membaca ilmu pengetahuan.
Copyrights © 2024