Islam tidak antipati dengan ilmu pengetahuan, bahkan sejalan dengannya. Banyak ayat yang menunjukkan hal ini. Tak heran, karenanya, aneka jenis keilmuan diberi ruang dan bisa berkembang dalam Islam, termasuk logika dan filsafat. Diantara tokoh populer di bidang ini adalah al-Farabi, Ibn Sina, al-Kindi, Ibn Bahjah, Ibn Thufail, dan banyak lagi. Termasuk juga yang tidak boleh diabaikan adalah Imam al-Ghazali (w. 505 H). Tokoh terakhir ini pada akhirnya lebih dikenal sebagai penekun dan pengamal tasawuf akhlaqi melalui karyanya Ihya Ulum al-Din, al-Munqidz min al-Dhalal, Mukasyafah al-Qulub dan lainnya. Dalam pandangan Imam al-Ghazali, yang membuatnya bergeser dari filsafat ke dunia spiritualitas/mistisisme, ada dua puluhan isu filsafat yang perlu dikaji ulang dan dikritik serius. Bahkan tiga diantaranya, menurutnya, bisa mengarah pada kekafiran atau pengingkaran pada nilai-nilai keilahian, yakni isu tentang kekadiman alam, ketidaktahuan Allah Swt pada hal-hal particular atau hal-hal yang kecil dan ketiadaan kebangkitan di akhirat kelak. Baginya, tiga isu ini tidak sesuai dengan ayat-ayat al-Qur’an dan karenanya patut ditolak. Untuk mengkritisi isu-isu filsafat yang dinilainya bergeser dari nilai-nilai Islam ini, Imam al-Ghazali bahkan menulis buku secara khusus yang diberi judul Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Para Filsuf). Dan buku ini, lalu dikritik balik atau disanggah oleh Ibn Rusyd melalui karyanya Tahafut al-Tahafut (Kerancuannya Kerancuan). Dan begitulah, perbedaan tentang isu-isu filsafat terus bergulir dan hangat dibincangkan.
Copyrights © 2025