Perubahan iklim telah secara signifikan mempengaruhi arsitektur dan lingkungan, termasuk di Indonesia, negara beriklim tropis yang rawan terhadap perubahan iklim. Pentingnya pengelolaan sumber daya alam dengan bijaksana menjadi semakin terasa. Beberapa bangunan telah berhasil menyesuaikan diri dengan tantangan ini, sementara yang lain tertinggal dalam adaptasi. Praktik arsitektur ekologis menjadi krusial dalam mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Penelitian ini menyoroti pentingnya menerapkan prinsip-prinsip arsitektur ekologis, seperti kenyamanan termal, pemilihan material, respons terhadap kondisi tapak bangunan, dan lain-lain. Fokusnya adalah Kompleks Istora Senayan Jakarta. Dengan metode kualitatif deskriptif dan merujuk pada teori Heinz Frick tentang desain arsitektur ekologis, penelitian ini menunjukkan keberhasilan dalam mengintegrasikan aspek-aspek ekologis dalam desain bangunan. Hasilnya menegaskan bahwa kolaborasi antara praktisi arsitektur dan ilmu lingkungan penting untuk merancang bangunan ramah lingkungan di masa depan. Penelitian ini memberikan pandangan tentang peran arsitektur dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
Copyrights © 2024