Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) menjadi masalah serius dalam pembangunan suatu negara. Usahapemerintah dalam mengatasi masalah RTLH di Indonesia merupakan upaya dalam perwujudanpembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) no. 6 mengenai air bersihdan no. 11 mengenai sanitasi layak, kota dan permukiman yang berkelanjutan. Untuk memenuhiprogram pemerintah tersebut, hal ini diperlukan adanya skema yang menampung seluruh dataRTLH sehingga menghasilkan prioritas pemugaran. Penelitian ini berbentuk kuantitatif deskriptifyang bertujuan untuk memberikan gambaran tentang implementasi metode TOPSIS dan BordaCount dalam menyusun rekomendasi pemilihan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang bersesuaiandengan harapan calon pemberi bantuan dengan mempertimbangkan bobot preferensi dari beberapaorang decision maker. Penelitian ini terdiri dari lima tahap yaitu menyusun kriteria beserta skalapengukurannya, menentukan bobot preferensi dari masing-masing kriteria untuk setiap pengambilkeputusan, mengimplementasikan metode TOPSIS, mengimplementasikan metode Borda Count, danmenyusun rekomendasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua metode tersebut dapatdiimplementasikan untuk memberikan rekomendasi tentang RTLH yang paling diprioritaskan untukdi pugar di wilayah Kampung Inggris Pare, Kabupaten Kediri. Dari hasil perhitungan, rumah dengankode P7 merupakan rumah RTLH yang paling sesuai dengan bobot preferensi dari para decisionmaker.
Copyrights © 2024