Artikel ini bertujuan untuk membahas tentang tafsir al-Qur’an terhadap frasa ummatan wasathan yang termaktub dalam surah al-Baqarah ayat 143 berdasarkan karya tafsir era klasik dan tafsir Indonesia. Tafsir era klasik yang dimaksud di sini yaitu tafsir al-Thabari dan al-Razi, sedangkan tafsir Indonesia mengambil karya Hamka dan M. Quraish Shihab. Tujuannya adalah mengidentifikasi makna ummatan wasathan kaitannya dengan moderasi Islam dalam konteks keindonesiaan. Guna mencapai tujuan tersebut, artikel ini menggunakan riset pustaka berbasis komparasi yang menyorot tiga persoalan: Pertama, bagaimana interpretasi ummatan wasathan dalam tafsir era klasik dan tafsir Indonesia. Kedua, komparasi antara keduanya. Ketiga, identifikasi ummatan wasathan berdasarkan komparasi tersebut. Hasilnya, konsistensi penafsiran tentang ummatan wasathan antara tafsir era klasik dan tafsir Indonesia berada pada posisi yang tidak jauh berbeda, hanya pada ranah kontekstualisasi masing-masing mempunyai kecenderungannya sendiri. Selaras dengan itu, ummatan wasathan dapat diidentifikasi sebagai umat yang moderat serta adil sehingga menjadi teladan bagi seluruh manusia dan istiqamah mengikuti jejak Nabi Saw.Abstract: This article aims to discuss the Qur'anic interpretation of the phrase ummatan wasathan contained in Surah al-Baqarah verse 143, based on the works of classical-era commentaries and Indonesian commentaries. The classical era interpretations referred to here are tafsir al-Thabari and al-Razi, while Indonesian interpretations take the works of Hamka and M. Quraish Shihab. The aim is to identify the meaning of ummatan wasathan in relation to Islamic moderation in the Indonesian context. To achieve this goal, this article uses comparative-based library research that highlights three issues: First, how is the interpretation of Ummatan Wasathan in classical era tafsir and Indonesian tafsir? Second, the comparison between the two Third, the identification of Ummatan Wasathan based on the comparison As a result, the consistency of interpretation of ummatan wasathan between classical era tafsir and Indonesian tafsir is in a position that is not much different; only in the realm of contextualization, each has its own tendency. In line with that, ummatan wasathan can be identified as a moderate and fair ummah so that it becomes an example for all humans and istikamah following the footsteps of the Prophet.
Copyrights © 2023