Penelitian ini membahas praktik penafsiran mengenai tertolaknya keimanan Fir‘aun dalam QS. Yunus: 90–92 dengan menelaah dua mufasir berbeda generasi, Nawawi al-Bantani dan Kojin Mashudi. Kajian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan memahami tafsir tidak hanya pada hasil akhir, tetapi juga pada proses dan kerangka penafsirannya. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan corak penafsiran masing-masing tokoh serta menganalisis perbedaan orientasi yang mereka gunakan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis isi dan perbandingan tafsir. Hasil menunjukkan bahwa Nawawi al-Bantani menafsirkan ayat tersebut secara teologis-normatif, menegaskan bahwa taubat pada saat sakaratul maut tidak diterima. Sebaliknya, Kojin Mashudi menafsirkan secara kontekstual-reflektif, menekankan aspek moral dan urgensi beriman sebelum ajal. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa meskipun sama-sama menyatakan keimanan Fir‘aun tertolak, perbedaan corak penafsiran mencerminkan dinamika tafsir Al-Qur’an yang berkembang mengikuti konteks zaman dan kebutuhan umat.
Copyrights © 2025