Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi fenomena maskulinitas toksik di kalangan remaja laki-laki di sekolah serta menelaah peran strategis konselor sekolah dalam mengatasinya. Kebaruan dari studi ini terletak pada pendekatan integratif yang menggabungkan perspektif teoretis dengan model-model praktis seperti WiseGuyzdan Breaking the Man Code, serta penerapan media digital. Artikel ini menekankan pentingnya pergeseran dari maskulinitas toksik menuju maskulinitas positif, yang mendorong empati, ekspresi emosional, penghargaan terhadap diri sendiri, dan martabat sosial. Studi ini menyimpulkan bahwa konselor sekolah, dengan dukungan seluruh pemangku kepentingan sekolah—guru, kepala sekolah, staf, dan orang tua—dapat secara kolektif menciptakan lingkungan sekolah yang lebih inklusif dan aman secara emosional. Kolaborasi semacam ini mendorong maskulinitas positif dan membantu remaja laki-laki dalam mengembangkan identitas serta hubungan yang lebih sehat, sehingga meningkatkan kesejahteraan mental dan sosial mereka.
Copyrights © 2025