Kemampuan menyelesaikan akar non-linear menuntut literasi algoritmik dan berpikir kritis. Pentingnya kebutuhan memahami bagaimana mahasiswa mengambil keputusan saat menyelesaikan akar non-linear, kajian ini memetakan profil literasi algoritmik dan kemampuan berpikir kritis berdasarkan kajian publikasi-publikasi Internasioal dan nasional. Kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ruang kebaruan bagi studi selanjutnya. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode PRISMA dengan literature review naratif–integratif atas 112 artikel menjadi 37 artikel (30 internasional dan 7 nasional) dengan penelusuran terbatas (Scopus, Web of Science, ERIC, DOAJ, Google Scholar), dan snowballing sitasi. Kriteria inklusi dalam kajian ini yaitu pendidikan matematika; komputasi (sekolah/perguruan tinggi); Critical thinking, Communication, Collaboration, Creativity (4C); berpikir kritis; Computational Thinking (CT); literasi algoritmik, peer-review, teks penuh. Seleksi dua tahap (screening judul dan abstrak kemudian membaca penuh) dengan deduplikasi dan analisis reliabilitas. Data diekstrak sesuai jenjang, fokus 4C, indikator algoritmik, domain akar non-linear, desain/asesmen, dan keterbatasan. Analisis sintesis deskriptif (frekuensi/proporsi) dan tematik. Hasil kajian diperoleh bahwa sebagian besar artikel membahas lebih dari satu komponen dalam 4C, sebagian kecil mengulas literasi algoritmik secara eksplisit, berfokus pada perguruan tinggi, dan belum ada yang menjadikan strategi akar non-linear sebagai konteks utama. Mayoritas menilai produk, bukan proses pembelajaran. Berdasarkan hasil kajian, ditemukan bahwa terdapat ruang kebaruan kuat untuk studi mendalam terkait proses literasi algoritmik dan berpikir kritis pada solusi akar non-linear. Implikasi bagi pengajaran berupa arahan adanya literasi algoritmik tertulis, menilai proses dan produk pembelajaran, dan menggunakan rubrik proses yang menautkan bukti produk pembelajaran.
Copyrights © 2025