Tempurung kelapa merupakan produk sampingan perkebunan dan mempunyai nilai komersial yang rendah, oleh karena itu tempurung kelapa sering ditinggalkan di kebun atau dibuang ke selokan dan saluran air. Akibatnya, praktik ini tidak hanya mengurangi daya tarik estetika tetapi juga berkontribusi terhadap pencemaran lingkungan. Pengolahan tempurung kelapa dapat menghasilkan beragam produk buatan tangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis nilai tambah pengolahan limbah tempurung kelapa menjadi kerajinan tangan serta potensi keuntungannya. Penelitian ini menggunakan metode Hayami untuk menganalisis nilai tambah dan rumus × 100 % untuk menghitung profitabilitas usaha. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa pembuatan kerajinan miniatur menghasilkan nilai tambah sebesar Rp366.538 dan rasio nilai tambah terkait sebesar 94%. Seperti halnya kerajinan ini disulap menjadi asbak, dihasilkan nilai tambah sebesar Rp 157.500, dengan rasio nilai tambah sebesar 90%. Selain itu, rasio nilai tambah sebesar 90% menghasilkan tambahan nilai sebesar Rp 190.700 ketika kerajinan tersebut disulap menjadi peralatan dapur. Dan yang tak kalah pentingnya, mengubah kerajinan ini menjadi aksesoris menambah nilainya sebesar Rp 197.648, atau 87%. Analisis lebih lanjut menunjukkan profitabilitas yang diperoleh IKM Rumah Tempurung Kelapa yaitu sebesar 240%.
Copyrights © 2024