Perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI) telah mentransformasi cara manusia berinteraksi dengan teknologi, memunculkan pertanyaan fundamental tentang status AI sebagai agen sosial. Penelitian ini menggunakan pen-dekatan tinjauan literatur naratif untuk mengkaji bagaimana AI dapat dipahami sebagai agen sosial melalui perspektif teori interaksi sosial. Analisis komprehensif terhadap 64 studi multidisipliner dari tahun 1994-2025 mengidentifikasi lima tema utama: karakteristik AI sebagai agen sosial, aplikasi teori interaksi sosial (CASA, Teori Persamaan Media, HAII-TIME), mekanisme antropomorfisme dan integrasi diri-AI, faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi sosial, serta implikasi etis dan desain. Temuan menunjukkan bahwa 75% studi mendukung konsep AI sebagai agen sosial, dengan bukti empiris dari eksperimen laboratorium, meta-analisis (ukuran efek kognitif d=0,70, afektif d=0,59), dan validasi neurosains. AI modern memenuhi kriteria agen sosial melalui tujuh karakteristik fundamental: perwujudan fisik, emosi, dialog, kepribadian, persepsi berorientasi manusia, pemodelan pengguna, dan pembelajaran sosial. Model bahasa besar menunjukkan kemampuan Teori Pikiran spontan setara anak usia 9 tahun. Chatbot pendamping memberikan empat jenis dukungan sosial dengan dukungan persahabatan mencapai 77,1%. Analisis mengidentifikasi konvergensi global pada lima prinsip etika AI: transparansi, keadilan, non-malefisiensi, tanggung jawab, dan privasi. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman teoretis tentang AI sebagai agen sosial dan menyediakan fondasi untuk pengembangan interaksi manusia-AI yang lebih bermakna dan etis, dengan implikasi praktis untuk pendidikan, kesehatan, dan layanan pelanggan.
Copyrights © 2025