Artikel ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana konstruksi teologis tradisional kerap memarginalkan penyandang disabilitas, serta menawarkan pendekatan baru melalui teologi yang inklusif. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif dan pendekatan studi pustaka, artikel ini menganalisis teks-teks Alkitab dan literatur teologi disabilitas untuk menggali pemahaman yang lebih adil dan manusiawi terhadap tubuh yang berbeda. Dalam banyak tradisi keagamaan, tubuh penyandang disabilitas sering diasosiasikan dengan dosa, kutuk, atau kekurangan iman. Namun, melalui lensa teologi inklusif, tubuh dengan disabilitas justru dipahami sebagai bagian utuh dari keberagaman ciptaan dan tempat nyata bagi karya Allah. Narasi dalam Perjanjian Baru, khususnya pelayanan Yesus, menunjukkan pergeseran paradigma dari penyembuhan fisik menuju pemulihan relasi sosial dan spiritual. Artikel ini menyimpulkan bahwa gereja masa kini perlu menata ulang pemahaman, struktur, dan liturgi agar benar-benar mencerminkan tubuh Kristus yang merangkul semua, termasuk mereka yang selama ini dilupakan.
Copyrights © 2025