Di masa kini, media sosial sangat mengubah cara berkomunikasi anak muda, khususnya Generasi Z, yang gemar menggunakan aplikasi seperti TikTok. Salah satu hal menarik dalam bahasa di dunia maya ini adalah “campur kode”. Ini berarti menggabungkan beberapa bahasa dalam satu kalimat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana campur kode digunakan oleh pembuat konten TikTok bernama Maxwell, serta melihat bagaimana hal ini memengaruhi cara generasi Z menggunakan bahasa. Penelitian ini menggunakan cara penelitian deskriptif kualitatif, dengan melihat dari sudut pandang sosiolinguistik. Sumber data yang diambil dari dialog di Video TikTok berjudul “Sebulan di Finlandia I #SekopMendunia Part 2/3”. Data dikumpulkan dengan cara mendengarkan dan mencatat, lalu dianalisis menggunakan metode analisis interaktif dari Miles dan Huberman, yang meliputi pengurangan data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasilnya menunjukkan dua jenis campur kode. Pertama, campur kode ke dalam dan kedua, campur kode ke luar. Campur kode ke dalam menunjukkan identitas budaya dan rasa dekat penutur dengan bahasa daerahnya, sementara campur kode ke luar menunjukkan pengaruh globalisasi dan usaha menampilkan citra modern dalam komunikasi digital. Pengaruhnya terhadap bahasa Indonesia ada dua sisi: bisa mengurangi perhatian terhadap aturan bahasa Indonesia yang benar. Jadi, penting untuk meningkatkan pemahaman tentang bahasa, agar penggunaan campur kode tetap sejalan dengan upaya menjaga bahasa Indonesia tetap lestari
Copyrights © 2025