Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh struktur aset terhadap kebijakan hutang pada perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2019–2024, dengan fokus pada hubungan antara fixed asset to total asset ratio dan debt to equity ratio. Metode penelitian menggunakan analisis regresi linier sederhana dengan pendekatan kuantitatif, dimana sampel diambil secara purposive sampling dari 7 perusahaan farmasi yang memenuhi kriteria kelengkapan data laporan keuangan selama periode penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa struktur aset tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan hutang (β=-0.089; p=0.574>0.05), meskipun memiliki hubungan negatif. Temuan ini diperkuat oleh analisis laporan keuangan yang mengungkap bahwa perusahaan farmasi cenderung lebih dipengaruhi oleh faktor profitabilitas (ROE) dan likuiditas (cash ratio) dalam menentukan kebijakan pendanaan, sesuai dengan teori pecking order. Implikasi penelitian ini menunjukkan perlunya pertimbangan faktor non-aset dalam pengambilan keputusan pendanaan di sektor farmasi, serta memberikan dasar bagi penelitian selanjutnya untuk mengeksplorasi variabel moderasi seperti intensitas R&D atau kebijakan dividen.
Copyrights © 2025