Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyimpangan sistem Cultuurstelsel di Demak pada tahun 1849 yang menyebabkan bencana kelaparan akibat eksploitasi oleh pejabat pribumi. Kebijakan Culturprocenten yang diperkenalkan oleh Bosch memberikan insentif ekonomi kepada elite lokal untuk memenuhi target ekspor pemerintah kolonial Belanda. Skema ini mendorong terjadinya pemaksaan terhadap petani untuk menanam komoditas ekspor di bawah tekanan kerja paksa dan beban pajak tinggi, yang memperparah penderitaan rakyat. Penelitian ini menggunakan pendekatan teori moral ekonomi James C. Scott dan teori kemiskinan struktural untuk menjelaskan relasi kuasa yang terbentuk antara elite lokal, pemerintah kolonial, dan petani. Metode yang digunakan adalah studi kualitatif historis melalui analisis arsip kolonial, dokumen administratif, dan sumber sejarah primer lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadinya pelanggaran terhadap "batas kelayakan" hidup petani merupakan akibat langsung dari kebijakan kolonial yang menciptakan ketimpangan struktural. Elite lokal secara sistematis mengorbankan kesejahteraan petani demi memenuhi tuntutan kekuasaan kolonial. Penelitian ini tidak hanya merekonstruksi dinamika kekuasaan eksploitatif masa kolonial, tetapi juga mengungkap relevansinya terhadap persoalan ketimpangan dan ketidakadilan agraria di Indonesia masa kini
Copyrights © 2025